Artikel Edukasi

Ciri-ciri penyakit HIV-AIDS


Penyakit HIV-AIDS dapat menyerupai gejala berbagai macam penyakit lainnya, baca terus di artikel ini untuk mengetahui berbagai ciri-ciri penyakit HIV-AIDS sehingga anda dapat mengenali gejala lebih awal dan memberikan pengobatan yang baik dan tepat. Pengobatan HIV-AIDS yang diberikan pada awal mula penyakit dapat memberikan kualitas dan harapan hidup yang sangat baik bagi ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). Meskipun penyakit HIV-AIDS belum dapat disembuhkan, namun demikian dengan pemberian obat antiretroviral, ODHA dapat beraktivitas dan memiliki tingkat kesehatan sama seperti individu tanpa HIV-AIDS.

Gejala awal infeksi HIV

Pada saat seseorang tertular virus HIV, misalnya dari jarum suntik atau hubungan seksual tanpa pengaman, gejala awal dapat menyerupai infeksi virus biasa. Gejala seperti sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, demam tinggi mendadak dapat muncul dalam waktu 1-2 minggu setelah individu tersebut terinfeksi. Setelah beberapa hari gejala ini biasanya membaik dengan sendirinya. Pada fase awal ini individu tersebut tidak dapat diperiksa untuk mendeteksi apakah tertular atau tidak, hal ini dikarenakan belum ada antibodi di dalam tubuh yang dapat dideteksi untuk menentukan orang tersebut tertular. 

Infeksi HIV bisa mulai dari tanpa gejala sampai infeksi berat AIDS.

Setelah fase awal ini, individu tersebut akan masuk ke dalam fase tanpa gejala, meskipun beberapa orang bisa mengalami gejala berupa pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak dan selangkangan. Namun demikian sebagian besar orang akan mengalami kondisi tanpa gejala apapun. Setelah 2 minggu, di dalam darah bisa mulai diperiksa apakah ada komponen virus dengan menggunakan tes NAT (Nucleic Acid Test), namun demikian pemeriksaan ini belum meluas, sehingga tidak bisa diperiksa di banyak tempat. Sebagian besar orang harus menunggu sampai 3 bulan untuk membuktikan dirinya terinfeksi atau tidak, hal ini disebut sebagai window period. Setelah masa 3 bulan ini tubuh sudah membentuk antibodi yang cukup banyak, sehingga bisa dideteksi melalu pemeriksaan penyaring untuk HIV, seperti tes rapid, ELISA atau ECLIA.

Fase tanpa gejala

Fase tanpa gejala pada infeksi HIV, atau disebut juga fase asimtomatik, adalah sebuah fase dimana seorang individu tidak mengalami tanda atau gejala terkait infeksi HIV. Individu tersebut, meskipun virus HIV terus berkembang biak dan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, belum menunjukkan adanya tanda-tanda khas untuk infeksi-infeksi oportunistik yang merupakan gejala utama infeksi HIV-AIDS. Fase tanpa gejala ini lamanya bervariasi, tergantung dari virus dan daya tahan tubuh seseorang, dapat berjarak mulai dari 3-15 tahun, bahkan ada beberapa individu yang daya tahan tubuhnya tinggi sehingga tidak pernah menunjukkan adanya gejala-gejala khas infeksi HIV.

Fase AIDS

Pada fase AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) seseorang penderita infeksi HIV mulai menunjukkan tanda gejala penurunan daya tahan tubuh yang signifikan. Tanda gejalanya dapat berupa hal-hal sebagai berikut:

  • Penurunan daya tahan tubuh signifikan
  • Demam berkepanjangan
  • Diare kronik, lebih dari 2 minggu
  • Sariawan dan keputihan di mulut
  • Batuk lama
  • Sakit kepala hebat disertai kaku kuduk
  • Gejala mirip stroke
  • Sesak napas memberat
  • Bintik-bintik kehitaman di kulit yang gatal
  • Bintik-bintik kehitaman di kulit yang mudah berdarah
  • Infeksi menular seksual seperti herpes, kondiloma dsbnya
Gejala AIDS bisa termasuk demam lama, penurunan berat badan dan beberapa gejala lainnya terkait infeksi dan kanker.

Patut diwaspadai apabila gejala-gejala tersebut di atas tidak membaik dengan pengobatan bisa, atau berlangsung terus menerus dalam waktu lama (lebih dari 14 hari atau 2 minggu). Apabila pada individu dengan risiko tinggi, seperti pengguna narkoba suntikan, seks bebas atau laki suka laki, maka harus segera dilakukan evaluasi dan penanganan apakah individu tersebut terinfeksi HIV atau tidak. Hal pertama yang dapat dilakukan adalah pergi ke puskesmas atau dokter terdekat untuk dilakukan pemeriksaan penapis anti-HIV. Pemeriksaan ini hanya memakan waktu singkat, dalam waktu 2 jam sudah dapat diketahui hasilnya.

Apa yang harus dilakukan bila terinfeksi?

Apabila anda terinfeksi HIV-AIDS, hal pertama yang harus dilakukan adalah jangan panik, tetap tenang dan segera berkonsultasi dengan dokter penyakit dalam terdekat yang biasa menangani HIV-AIDS. Saat ini di Indonesia ada 2 konsultan penyakit dalam yang dapat menangani HIV-AIDS secara komprehensif, yakni konsultan Alergi Imunologi dan konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi. Infeksi HIV-AIDS dapat ditangani dengan baik, obat-obatan antiretroviral disediakan oleh pemerintah sehingga ODHA dapat berobat dengan baik dan nyaman. Pengobatan antiretroviral dan infeksi oportunistik yang baik adalah kunci untuk meraih kembali kesehatan dan aktivitas fisik yang baik sama seperti sebelum sakit.

Dimana saya bisa dapat informasi HIV-AIDS?

Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD secara langsung. Follow akun twitter saya di @steventMD, Instagram di alergi.imunologi atau facebook page di Blog Alergi Imunologi Klinik untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.