Artikel Edukasi

Apakah penyakit autoimun itu?


Penyakit autoimun adalah sekelompok keadaan di mana daya tahan tubuh kita sendiri menyebabkan gangguandan kegagalan sel, jaringan dan sistem tubuh. Penyakit autoimun bisa mengenai semua orang, dari segala jenis kelamin dan usia, tidak mengenal status sosial, ekonomi dan ras. Kenali penyebab, gejala dan bagaimana menangani serta mencegah penyakit autoimun dengan terus membaca artikel ini sampai selesai.

Apakah penyebab dari penyakit autoimun?

Penyakit autoimun, sebagaimana disebutkan di atas terjadi pada saat sistem imun kita, baik itu sel darah putih, antibodi dan beberapa komponen lainnya, menyebabkan reaksi-reaksi yang mencetuskan peradangan dan kerusakan pada sel, jaringan dan organ tubuh kita. Autoimun disebabkan karena interaksi dari tiga hal, genetik orang tersebut, faktor-faktor lingkungan dan kondisi kesehatan orang tersebut secara keseluruhan.

Autoimun terjadi saat daya tahan tubuh kita sendiri menyerang sel, jaringan dan sistem tubuh sendiri sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan dan kegagalan organ.

Faktor genetik merupakan penentu utama seorang individu terkena autoimun atau tidak, karena komposisi gen seseorang menentukan bagaimana reaksi tubuh orang itu terhadap pencetus dari lingkungan dan kondisi eksternal. Gen seseorang seperti cetak biru yang menentukan bagaimana orang itu akan bereaksi terhadap pencetus, apakah berhasil mengendalikan atau malah menyebabkan terjadinya autoimun. Kondisi autoimun meskipun ditentukan oleh faktor genetik, namun bukan merupakan penyakit keturunan. Orang tua dengan autoimun tidak menyebabkan anaknya secara pasti akan menderita autoimun, tapi di lain pihak beberapa keluarga dengan kondisi genetik tertentu memang meningkatkan risikos eseorang terkena kondisi tersebut.

Selain kondisi genetik, faktor lingkungan juga menentukan apakah kecenderungan autoimun tersebut muncul menjadi penyakit autoimun atau tidak. Hal ini karena, faktor genetik seperti saklar lampu, apabila tidak ada faktor lingkungan dan kondisi kesehatan seseorang yang mengaktifkan saklarnya, maka lampu genetiknya tidak akan menyaladan menyebabkan penyakit autoimun.

Beberapa faktor lingkungan yang dapat mencetuskan autoimun adalah polusi, cemaran kimia dalam bahan pangan, rokok dan beberapa obat-obatan tertentu. Cemaran kimia dalam bahan bangan dalam bentuk pewarna, pengawet, perasa, pemutih dan berbagai bahan lainnya dalam makanan olahan merupakan salah satu pencetus utama autoimunitas di jaman modern ini. Selain itu konsumsi gula dan karbohidrat sederhana secara berlebihan, baik dari bahan pangan olahan, minuman ringan maupun konsumsi tambahan harian menyebabkan sistem imun bekerja secara berlebihan, menyebabkan autoimun muncul dan sulit terkontrol. Baca lebih lanjut mengenai bagaimana memilih bahan pangan dan karbohidrat yang paling cocok untuk penyintas autoimun.

Kondisi kesehatan individu secara keseluruhan juga merupakan faktor penting yang harus dikenali sebagai pencetus autoimun, mulai dari rutinitas aktivitas fisik, kualitas tidur, tingkat stres sampai ke kondisi kesehatan saluran cerna dapat memengaruhi apakah seorang autoimunnya muncul atau tidak. Olahraga teratur, 3-5 kali seminggu terutama olahraga low impact seperti yoga, pilates dan taichi sangat baik untuk meningkatkan kesehatan tubuh dan meredakan peradangan (baca disini untuk olahraga terbaik untuk autoimun).

Tidur, merupakan waktu di mana tubuh meredakan peradangan, meningkatkan kapasitas antioksidan alamiah dan memulihkan tubuh dari stres yang dialami seharian. Tidur berkualitas 6-8 jam setiap hari sangat direkomendasikan untuk semua orang, terutama orang-orang dengan kecenderungan autoimun. Kondisi kesehatan saluran cerna, di kedokteran disebut sebagai mikrobiom sangat penting diperhatikan, karena bakteri-bakteri baik dalam saluran cerna kita merupakan komponen penting untuk menjaga kesehatan secara keseluruhan. Baca lebih lanjut bagaimana prinsip-prinsip Lima Dasar Hidup Sehat dapat membantu kita untuk mencegah, menangani dan mengendalikan autoimunitas.

Siapa saja yang berisiko terkena autoimun?

Autoimun, seperti disebutkan diatas, dapat diderita oleh semua orang, namun demikian beberapa individu memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menderita autoimun. Autoimun lebih banyak diderita oleh wanita dibandingkan pria (3:1) dan lebih sering pada usia muda produktif, meskipun ada beberapa kondisi autoimun yang banyak diderita oleh orang tua seperti artritis reumatoid.

Apa saja gejala dari autoimun?

Gejala-gejala autoimun bisa menyerupai banyak kondisi lain, gejala-gejala umum seperti kelelahan, demam, nyeri dan bengkak sendi, gangguan konsentrasi dan daya ingat, mata kering, gangguan kulit, rambut rontok, sariawan mulut dan gangguan saluran cerna dapat ditemukan pada autoimun dan juga banyak kondisi medis lainnya. Namun demikian ada beberapa hal yang bisa membuat kita mencurigai terjadinya autoimun pada individu dengan keluhan seperti di atas, biasanya pada individu dengan autoimun keluhan-keluhan di atas terjadi pada waktu yang lebih lama dan tidak membaik dengan pengobatan-pengobatan biasa. Biasa kelelahan, demam dan nyeri sendi pada kondisi autoimun diderita lebih dari 2 minggu pada individu-individu ini. Baca artikel-artikel berikut untuk mengetahui gejala autoimun spesifik seperti lupus, artritis reumatoid, vaskulitis, IBD dan sindrom sjogren.

Beberapa gejala di atas banyak diderita oleh individu dengan autoimun

Bagaimana cara diagnosis autoimun?

Apabila kita mencurigai diri kita mengalami autoimun, dengan gejala-gejala kelelahan, nyeri sendi, demam dan keluhan lainnya yang tidak membaik dalam jangka waktu panjang, hal pertama yang harus dilakukan adalah konsultasi ke dokter ahli penyakit dalam terdekat. Dokter ahli penyakit dalam akan melakukan wawancara, pemeriksaan fisik dan laboratorium yang sesuai untuk menentukan apakah kita menderita autoimun atau tidak. Beberapa pemeriksaan khusus yang sering dilakukan untuk beberapa kondisi autoimun adalah faktor reumatoid, antibodi antinuklear (ANA), komplemen C3/C4 dan beberapa pemeriksaan khusus lainnya tergantung jenis autoimun yang dicurigai. Baca lebih lanjut di sini untuk mengetahui pemeriksaan-pemeriksaan khusus untuk mendiagnosis beberapa autoimun spesifik seperti lupus, artritis reumatoid, vaskulitis, IBD dan sindrom sjogren.

Bagaimana cara kita mengobati autoimun?

Autoimun merupakan kondisi yang bisa diobati dengan baik, bertentangan dengan pendapat umum bahwa penyakit autoimun tidak bisa diobati atau mempunyai harapan yang buruk. Penyakit autoimun, dengan pengaturan diet, gaya hidup dan pengobatan yang cocok dapat ditangani dan dikendalikan dengan baik. Pengaturan obat yang sesuai dengan dosis yang terkontrol juga dapat mencegah terjadinya banyak komplikasi terkait pengobatan autoimun seperti moonface, osteoporosis dan risiko infeksi berat. Pengobatan autoimun,s ebagaimana dijelaskan di atas tidak hanya bergantung pada obat-obatan, pengaturan diet dan gaya hidup memainkan peranan sangat penting bagi individu dengan autoimun. Baca di artikel-artikel berikut untuk mengenal lebih banyak mengenai cara-cara pengaturan gaya hidup untuk autoimun spesifik seperti lupus, artritis reumatoid, vaskulitis, IBD dan sindrom sjogren.

Pengobatan autoimun sendiriberdasarkan pada beberapa obat-obatan yang berguna untuk mengendalikan dan menekan reaksi imun berlebihan, seperti kortikosteroid, hidroksiklorokuin (plaquenil), imunosupresan dan suplementasi vitamin D. Kortikosteroid merupakan golongan obat utama untuk menangani kondisi autoimun, yang termasuk golongan obat ini adalah metilprednisolon, prednison, prednisolon dan dexametason (baca disini untuk tahu lebih banyak). Plaquenil (baca lebih lanjut mengenai plaquenil) dan suplementasi vitamin D (baca lebih lanjut mengenai vitamin D) berguna untuk mengendalikan kondisi autoimun melalui pengaturan aktvitas sistem imun kita, kedua obat ini sekarang menjadi obat utama untuk membantu mengurangi dosis kortikosteroid yang banyak dikaitkan dengan efek samping. Beberapa obat-obatan imunosupresan, seperti metothrexate, cyclophosphamide, cyclosporine dan asam mikofenolat (baca lebih lanjut disini) juga dipakai pada kondisi autoimun berat.

Apakah perlu untuk melakukan diet autoimun?

Topik terakhir yang kita bahas diartikel ini adalah mengenai diet autoimun, banyak artikel telah dibahas mengenai topik ini, namun demikian disini saya tekankan tidak ada diet khusus untuk autoimun. Mengapa demikian? Hal ini karena genetik dan kondisi tubuh individu dengan autoimun berbeda, meskipun benar bahwa makanan sangat memengaruhi kondisi autoimun, namun demikian tidak semua individu meskipun dengan penyakit autoimun yang sama memiliki reaksi yang sama. Beberapa hal dapat dijadikan patokan untuk menentukan makanan yang cocok untuk individu autoimun, pertama adalah kendalikan kalori karena kalori adalah bahan bakar utama reaksi imunitas. Hal kedua pelajari dan hindari pencetus autoimun pribadi, beberapa pencetus yang umum adalah gluten, produk susu dan bahan kimia tambahan yang sudah disebutkan di atas. Namun demikian harus hati-hati menentukan pencetus, karena tidak semua individu memiliki pencetus yang sama. Ketiga, konsumsi bahan pangan kaya akan anti-oksidan dan anti-inflamasi alami, seperti virgin coconut oil, virgin olive oil, asam lemak omega-3 dan berbagai rempah-rempah alami Indonesia yang sangat sehat seperti temulawak, jahe dan kunyit. Baca lebih lengkap mengenai peranan diet dalam kondisi autoimun di artikel ini.

Lima Dasar Hidup Sehat merupakan kunci utama pengendalian autoimun

Penutup

Demikian ulasan singkat mengenai autoimun, baca lebih lanjut di artikel-artikel autoimun yang tersedia di website ini untuk mengetahui lebih lanjut. Silahkan komentar, bertanya dan berdiskusi di kolom komentar di bawah, atau kontak langsung ke saya melalui link berikut untuk berkomunikasi via email. Jangan lupa share ke kawan-kawan ODAI (orang dengan autoimun) yang membutuhkan, untuk membuat kita semua semakin pintar dan sehat. Salam ODAI sehat dan berdaya.

Untuk informasi lebih lanjut, bisa komentar dan bertanya di kolom diskusi dibawah ini, atau isi form kontak untuk berdiskusi via email kepada dr. Stevent Sumantri, DAA, SpPD secara langsung. Follow akun twitter saya di @steventMD, Instagram di alergi.imunologi atau facebook page di Blog Alergi Imunologi Klinik untuk mendapatkan informasi terbaru dan berdiskusi tentang masalah autoimun, alergi, asma, HIV-AIDS dan vaksinasi dewasa.

2 replies »

  1. Halo dok saya pertama didiagnosa reaktif athritis lalu sudah hampir 2 minggu saya sudah dapat beraktivitas normal tinggal kaki saya masih di fisioterapi. Tapi rambut saya rontok meskipun tdk dalam skala langsung banyak tapi lebih mudah rontok, saya agak mudah lemas dan sempat mengalami tremor di kedua tangan selama sehari. Saya sudah tes darah dan urin hasilnya normal. apakah ada indikasi ke autoimun lupus dok?

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.